Rabu, 01 Januari 2014

RAPAT TANGGAL 29 DESEMBER 2013 (RUMAH RELLY)

MEMUTUSKAN :
1.      Untuk anggota yang membawa teman atau pacar ikut dalam acara tahun baru prk5 tegalkuning, diberikan iuran sebesar 10.000 per kepala.

2.      Untuk anggota yang mempunyai wadah buat bakar sate diharapkan dibawa.

3.      Wajib untuk anggota semua mengikuti acara tahun baru....

4.      Untuk anggota yang sudah masuk sekolah tanggal 2 januari tetap harus berangkat meskipun tidak mangikuti acara sampe selesai.

5.      Pertemuan bulan depan tanggal 26 januari 2014.


6.      Untuk pertemuan depan dimushola al hidayah.

Jumat, 13 Desember 2013

WANITA MALANG

WANITA MALANG

Pukul sebelas malam saat aku sedang menonton televisi di kamarku sambil berbaring, terdengar bunyi pesan singkat dari ponselku.
Dari: Anita Malang
   Aku sudah sampai Solo Mas
Sejenak aku termenung di antara suara televisi sambil berpikir bingung setelah membaca pesan singkat itu. Aku bergegas menyambar topi dan jaket jeansku yang tergantung di kamar. Aku keluarkan motor dari garasi rumahku dan bersiap menuju stasiun Kutoarjo untuk menjemput Anita. Anita, teman dekatku saat aku berlibur di kota Malang. Kala itu kami berkenalan saat aku sedang menonton pertandingan sepak bola di stadion Kanjuruhan Malang. Umur Anita tujuh tahun lebih tua dariku, badannya agak gemuk, kulitnya hitam dan wajahnya manis. Mendengar deru motorku di garasi, ibuku bergegas keluar dari kamarnya.
“Kau mau kemana nak? Sudah malam.”
“Mau ke stasiun bu, menjemput temanku dari Malang.”
Belum sempat ibu bertanya lagi aku sudah jalan dengan motorku menuju stasiun. Dengan tergesa-gesa dan gelisah di perjalanan aku mengendarai motorku menuju stasiun. Baru sekali ini Anita datang ke Purworejo, bahkan Anita tidak tahu daerah Purworejo.
Tiba di stasiun aku parkiran kendaraanku, seorang tukang parkir menghampiriku sambil memberikan nomor parkir.
Mas, kereta Malabar sudah lewat belum ya?” Tanyaku.
 Sudah dari tadi Mas” jawab tukang parkir itu dengan suara keras dan lantang.
Semakin khawatir dan bercampur aduk setelah mendengar ucapan tukang parkir itu, dalam hatiku bertanya-tanya, bagaimana kalau Anita tidak turun di stasiun ini? Bagaimana kalau dia terbawa sampai Purwokerto atau Bandung? Rasa khawatir itu semakin membelenggu hati dan pikiranku. Dengan perasaan yang khawatir aku langkahkan masuk ke dalam stasiun, duduklah aku di bangku stasiun yang kosong. Aku terus memegang ponselku dan memandangi layarnya berharap Anita bisa menghubungiku. Berkali-kali aku mencoba menelepon Anita, tetapi nomornya tidak aktif. Angin malam semakin kencang, aku termenung menunggu di bangku stasiun. Kereta pertama lewat, berharap itu adalah Malabar Express dan ternyata bukan. Beranjaklah aku dari bangku menuju kantor petugas stasiun, kutemui petugas stasiun dan aku bertanya
Pak, kereta Malabar sudah lewat belum?
Malabar dari Bandung atau Malang?” petugas itu balik bertanya.
“Dari Malang pak.” Tanyaku sedikit khawatir.
“Oh, belum lewat mas, nanti pukul satu sampai sini.”  jawab petugas stasiun itu
Aku sedikit lega dengan jawaban petugas itu, dan perasaan khawatirku hilang seketika. Detik demi detik, menit demi menit, aku duduk termenung bermain ponsel sambil menunggu kereta Malabar Express datang. Tepat pukul satu malam, petugas stasiun pun memberi informasi bahwa kereta Malabar tujuan Bandung akan berhenti di stasiun. Dengan perasaan gembira dan gugup aku berdiri melihat apakah Anita akan turun dari kereta, kereta mulai masuk area stasiun pelan semakin pelan. Akhirnya kereta tersebut hanya menurunkan seorang penumpang, dan penumpang itu adalah Anita, wanita yang datang dari Malang hanya untuk menemuiku. Anita langsung menghampiriku karena ia sangat hafal dengan wajahku yang dikenalnya. Ia tersenyum lebar karena aku benar-benar menjemputnya di stasiun tengah malam seperti ini. Aku bawa barang bawaan dia dan mengajaknya menuju keluar stasiun.
“Mari kita pulang, Nit!”
Iya mas, tapi jangan ngebut-ngebut ya?
 Kubawa Anita pulang ke rumah dengan perasaan yang bahagia karena dia tidak salah turun stasiun.
Tiba di rumah, kuajak Anita masuk ke dalam rumah, kukenalkan dia kepada ibuku. Ibu menerima dia dan mempersilahkan dia untuk beristirahat. Tepat pukul malam kusilahkan Anita untuk tidur di kamarku dan aku sendiri  tidur di ruang keluarga. Suara ayam berkokok, sinar matahari mulai masuk kedalam rumah melalui sela-sela ventilasi udara menadakan bahwa sudah pagi hari. Anita mengajakku jalan-jalan mengelilingi kota Purworejo sambil menagih janji yang waktu itu pernah kuucapkan kepadanya. Aku bergegas mandi dan berpakaian rapi untuk mengantarkan Anita jalan-jalan di kota Purworejo. Kuhentikan kendaraanku di sebuah toko muslim untuk memenuhi janjiku membelikannya jilbab. Kubebaskan dia memilih jilbab yang menurutnya bagus.
“Yang Ini bagus gak mas? Tanyanya dia kepada aku.
Aku hanya tersenyum. Akhirnya Anita memilih jilbab warna pink yang menurutku tidak cocok. Aku mengangguk saja agar cepat-cepat pergi dari toko tersebut karena aku mulai bosan. Aku melanjutkan jalan-jalan dengan Anita yang rencananya akan pulang besok malam.
Keesokan harinya aku antar Anita menuju stasiun untuk membeli tiket kereta nanti malam menuju Malang. Terkejutnya aku saat dia mengatakan
Aku tidak mau pulang ke Malang kalau tidak diantar kamu mas!
Aku terpaksa menyetujuinya karena tidak enak dengan Anita. Sesampai di rumah aku meminta izin kepada ibu untuk ikut mengantar Anita pulang ke Malang, dan diizinkanlah aku untuk mengantar Anita pulang ke Malang.
Pukul sembilan malam, aku berangkat menuju stasiun untuk berangkat ke Malang. Tibalah kami di stasiun dan kami segera duduk di sebuah bangku kosong sambil menunggu kereta tujuan Malang datang untuk membawa kami. Sambil menunggu kereta datang kami berduapun asyik mengobrol sambil tertawa. Pukul setengah dua belas malam petugas stasiun memberi informasi bahwa kereta tujuan Malang akan memasuki stasiun aku dan Anita pun segera bergegas berdiri menghampiri kereta itu. Berhentilah kereta itu di hadapanku kulangkahkan kakiku memasuki gerbong pintu kereta. Kereta berjalan pelan dan semakin kencang membawaku dan Anita menuju Malang.
Pukul sembilan pagi kereta sampai di Malang. Keluar dari stasiun kami naik kendaraan umum menuju rumah Anita. Sesampainya di rumah Anita aku dikenalkan oleh keluarganya sebagai calon suami Anita. Betapa terkejutnya aku, karena selama ini aku hanya menganggap Anita teman biasa dan itupun tidak lebih. Di waktu santai aku mengobrol dengan Anita.
“Nit, mengapa kamu kenalkan aku ke keluargamu sebagai calon suamimu?”
“Pokoknya aku mau menikah denganmu mas!”
Aku tersentak kaget mendengar ucapan Anita. Bagaimana tidak, kala itu usiaku dua puluh tahun, sedangkan Anita sudah dua puluh tujuh tahun. Aku sama sekali belum siap menikah dank ala itu aku sedang kuliah. Dalam istirahatku di siang hari itu, aku tidak mau melanjutkan hubungan ini kalau Anita masih bersikeras ingin segera menikah denganku.
Sore harinya aku bergegas kembali menuju  Purworejo untuk pulang ke rumah. Aku berpesan kepada Anita untuk tidak menikah dalam waktu dekat ini. Aku mengatakan bahwa aku masih muda dan ingin meraih cita-citaku. Anita hanya tersenyum mendengar nasehatku.
Hari demi hari berganti dan semakin berat juga aku menghadapinya karena aku terus didesak untuk segera melamar Anita. Kuputuskan untuk membohongi Anita bahwa aku telah bertunagan, kupinjam cincin emas milik ibuku kufoto cincin emas yang melingkar dijari manisku, kukirimkan dia foto cincin emas itu kepadanya. Terkejutnya dia melihat fotoku itu, dan itu tidak membuatnya untuk pergi dari kehidupanku, dengan cincin tersebut dia semakin keras untuk memaksaku menikahinya. Aku semakin bingung dan memutuskan untuk tidak akan memberinya kabar.
Seminggu telah berlalu, terkejut aku ketika dia mengirimkan sebuah pesan singkat yang mengatakan bahwa Anita akan datang ke Purworejo untuk menjemputku. Aku hanya berpikir mungkin itu hanya sebuah ancaman saja, aku tidak merespon sekalipun pesan singkat maupun telepon dari dia. Malam harinya saat aku tertidur pulas, ada seseorang yang membangunkanku aku membuka mata, dan tersentaklah aku dari tempat tidur melihat Anita yang ternyata sejak tadi membangunkanku.
Ngapain kamu kesini lagi?Tanyaku kepada dia.
“Mas, udah tunangan makanya aku kesini lagi.
Ibuku tersenyum mendengar jawaban Anita yang seperti anak kecil merengek meminta permen.
Paginya kuantar Anita ke stasiun untuk pulang ke Malang dan aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidak mau menikah dengannya. Anita sangat kecewa, tetapi aku sudah memutuskan untuk fokus kuliah. Keretapun datang dan membawa Anita kembali pulang ke Malang. Saat itu menjadi pertemuanku dan Anita yang terakhir.
Berbulan-bulan Anita masih saja menghubungiku, aku tidak pernah meresponnya sekalipun karena aku tidak ingin hubungan ini terjalin kembali. Suatu ketika dia memberi kabar aku bahwa dia telah menikah, aku hanya memberikan ucapan selamat kepadanya. Dalam hatiku aku terbebas dari dia, meskipun aku telah bersalah karena telah memberinya harapan yang tidak akan pernah bisa kupenuhi.


SI PARASIT CANTIK

SI PARASIT CANTIK

Di tengah heningnya suatau malam, aku duduk terdiam dan memandangi sebuah genteng rumah tingkat yang tepat berada dihadapanku. Kupandangi terus-menerus sampai mataku lelah dan mulai merasa mengantuk. Saat aku mulai merasa ingin tidur, di antara hembusan lembut angin malam, tiba-tiba terdengar bunyi suara HP-ku yang menandakan ada pesan masuk. Aku buka pesan itu dengan mata yang lelah, dan saat aku baca isi pesan singkat itu langsung mataku yang tadinya mengantuk menjadi segar kembali. Betapa bahagianya aku dikala malam itu dengan kesendirianku yang hanya ditemani oleh secangkir kopi. Berbulan-bulan aku menantikan sms itu dan akhirnya dia mengatakannya juga. Langsung saja aku masuk ke kamar kosku, sambil tersenyum bahagia dan dengan perasaaan yang begitu gembira. Terbaringlah aku di kasur lapukku tempat biasa aku tidur, kutarik bentangkan kaki dan tangan kebawah dan keatas sambil tersenyum lebar, ingin rasanya aku segera tidur agar cepat berganti hari. Mata kupaksa untuk terpejam agar bisa cepat segera terlelap dalam tidurku, tetapi semakin aku memaksa memejamkan mata, semakin pula aku tidak bisa tidur, entah mengapa sampai bisa seperti ini. Aku hanya bisa tersenyum bahagia dan berulang-ulang kali mebuka dan membaca pesan yang baru saja aku terima seakan tak percaya bahwa Linsara akan mengirim sms tersebut untukku yang isinya:
Dari: Linsara
Mas, besok aku pulang dan turun di stasiun Tugu. Aku tolong dijemput ya mas? Aku naik kereta api Kahuripan.
Hari telah berganti, mataku masih sembab akibat kurang tidur semalaman. Aku berangkat kuliah sambil terus membayangkan dalam hati tentang Linsara. Ya, Linsara, temanku SMP yang merupakan gadis paling manis di sekolaku dulu, aku tak pernah menyangka dia mau mengenalku yang hanya kutu-kutu sekolah saat itu. Pikiranku terlalu lama untuk melamunkan Linsara, gadis manis pujaanku. Sampai tak sadar temanku sudah berada di sampingku dan menendangku yang sedang melamun bahagia sambil terus senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
“Kapan kamu datang?” tanyaku kepada Arif sahabatku.
“Lima tahun yang lalu! Dipanggil dari tadi malah melamun, kesurupan setan kampus nanti kamu, jawab Arif kepadaku.
Aku pun tersenyum sambil terus membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam waktu aku jemput Linsara. Teman semakin banyak yang datang dan menghampiriku, sambil menunggu dosen keluar dari kantor, tak lama kemudian dosen kami pun keluar dari kantor dan menuju ruang perkuliahan. Pada waktu kuliah berlangsung, hatiku semakin tak karuan dan pikiran tentang Linsara terus menari-nari dalam alam bawah sadarku aku berteriak,
 “Oh, Sara.. Mas sayang kamu!”
Sontak semua yang berada di ruangan terdiam dan sesaat kemudian kelas menjadi riuh dengan suara tawa dosen dan teman-temanku. Aku sangat malu dan berlari menuju kamar mandi untuk membasuh mukaku.
Pagi berganti siang, siang beganti sore, sore berganti malam, dan malam inilah yang aku tunggu karena aku akan bertemu dengan Linsara yang berniat menemuiku dari Madiun tempatnya bekerja. Aku bersiap-siap merapikan diri dan segera bergegas menuju stasiun untuk menjemput Linsara, tibalah aku di stasiun kutunggu Linsara di pintu keluar sambil aku terus menghubungi dia. Senang hati dan rasa yang bercampur aduk aku terus menunggu kedatangannya. Terdengar suara bel dilanjutkan pemberitahuan petugas stasiun bahwa kereta akan datang. Hatiku kembali bersemangat dan bahagia akhirnya kereta yang aku tunggu datang juga. Lima menit aku menunggu di pintu keluar dan berharap aku secepatnya dapat menemukannya. Akupun segera bergegas mencari dan mendatanginya. Linsara memanggilku dari ruang informasi sambil melambaikan tangan, dan aku berlari menujunya. Kupandangi terus wajahnya yang semakin cantik, diajukan tangannya tanda ingin berjabat tangan denganku sambil dicium tanganku. Alangkah bahagianya aku, melihat dan merasakan sikapnya. Kuajak dia untuk keluar dari stasiun dan mencari makan di daerah Malioboro sambil berjalan-jalan menikmati indahnya kota pelajar ini. Aku terus memandangi wajah dan senyumnya yang sangat manis itu, hingga dapat meluluhkan hatiku yang memang benar-benar tak percaya Sara mau untuk menemuiku saat ini.
Mas kamu sekarang kok tinggi sekali.”
Begitulah dia bertanya padaku saat aku berjalan di sampingnya. Aku jawab dengan senyuman yang tak kalah lebarnya. Aku bahagia sekali berada di dekatnya.
Kuberhentikan kendaraanku di rumah makan daerah Kalibayem Yogyakarta, kuajak dia masuk dan kupersilahkan duduk dan memesan makanan kesukaannya. Kami berduapun makan sambil mengobrol diselingi candaan yang membuat semua orang di sekitarku merasa iri. Setengah jam telah berlalu, tak sadar makanan dan minuman yang kami pesan habis seketika. Kami pun segera bergegas menuju Purworejo, sepanjang perjalanan dari Yogyakarta sampai Purworejo, perasaan dan hatiku sangat senang dan bahagia. Kuantarkan dia sampai rumahnya yang tak jauh dari rumahku. Di rumahnya aku disambut dengan senyuman oleh ibunya, sambil mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumah. Tetapi waktu itu sudah hamper larut malam, sehingga aku putuskan untuk segera bergegas pulang ke rumah saja.
Keesokan harinya, Linsara mengajakku untuk mengantarkan membeli tiket kereta tujuan Madiun. Rasa yang tadinya sangat bahagia itu, mendadak hilang kerena dia akan kembali lagi ke Madiun. Aku coba ikhlaskan, hari yang ditentukan keberangkatan kereta api telah datang. Kuantarkan dia menuju stasiun kemudian kutemani dia mendapatkan keretanya. Sambil menunggu kereta datang, aku beranikan diri untuk mengutarakan isi hatiku kepadanya bahwa aku mencintainya.
Linsara, aku suka sama kamu, mungkin kamu akan kaget mendengar ini, tapi aku benar suka sama kamu, kamu mau tidak jadi kekasihku?”
Linsara pun tak kunjung menjawab, hanya tersenyum dan mengangguk tanda ia mau dan menerimaku. Sungguh saat waktu itu aku tidak dapat berbuat apa-apa, rasa bahagia melambung sampai ke angkasa. Tak lama kemudian, keretapun datang untuk membawa Linsara kembali menuju Madiun. Kuikhlaskan dia pergi, meskipun sebenarnya aku tidak rela, karena aku ingin sekali bersama dengannya dalam waktu yang lama. Setelah kejadian di stasiun itu, aku semakin rajin menghubungi Linsara untuk menanyakan kabarnya dan sekedar menyalurkan kerinduanku kepadanya. Tetapi jarang sekali aku mendapat respon atau balasan darinya. Pikiranku mulai curiga dengannya, tapi aku tidak ingin berpikir negatif kepadanya.
Selang beberapa minggu aku mulai libur semester, aku berniat untuk menemui Linsara di Madiun. Berangkatlah aku setelah mendapat persetujuan dari Linsara. Di Madiun, kumanjakan Linsara layaknya seorang permaisuri raja. Dia meminta apa saja aku menurtinya, dari kalung, pakaian, tas, sepatu, sampai berjam-jam menunggunya di salon kecantikan. Aku bahagia sekali karena dapat membuatnya merasa riang.
Dua hari satu malam aku berada di Madiun untuk melepas rindu dan membahagiaakan Linsara. Aku berniat untuk pulang dan berpamitan dengan Linsara untuk kembali ke Purworejo. Berminggu-minggu setelah aku di Purworejo, kejadian itu terulang kembali. Tidak pernah sekalipun Linsara menanyakan kabarku, bahkan menyapaku lewat ponsel pun tidak pernah. Aku mulai berpikir negatif kepadanya, aku coba untuk memulai menghubunginya, tapi sama sekali tidak ada respon. Beberapa hari kemudian, aku menelepon dia dan memberitahukan bahwa aku akan ke Madiun lagi. Lusanya aku berangkat ke Madiun.
Di perjalanan menuju ke Madiun perasaanku benar-benar tidak karuan dan sangat gelisah merasakan perubahan sikap Linsara yang menghilang tanpa kabar. Sesampainya di Madiun aku lepaskan rasa lelahku sejenak, sambil menunggu Linsara pulang dari bekerja. Setelah dijemput Linsara, kami berdua makan di sebuah restoran dan disela-sela makan malan itu, aku bertanya mengapa dia tidak pernah memberikan kabar. Linsara tersenyum dan mengatakan bahwa ia sangat sibuk menjadi sales promotion girl. Aku memaklumi alasannya dan kembali mengobrol dengannya. Setelah selesai makan, Linsara mengajakku untuk berjalan-jalan ke mall yang tak jauh dari restoran tersebut. Aku pun menyanggupinya dan seperti biasa, aku manjakan dia untuk meminta apapun yang ia suka di sana.
Keesokan harinya aku kembali berpamitan kepada Sara untuk pulang ke Purworejo. Setelah aku sampai Purworejo, lagi-lagi hal itu teulang, tidak pernah sekalipun Linsara menghubungi aku, aku mulai berpikir bahwa Linsara hanya mempermainkanku. Aku mencoba melepaskannya secara pelan-pelan dan tidak akan mengingatnya lagi. Tak lama setelah kejadian itu, aku mendapat telepon dari seseorang yang mengatakan bahwa dia adalah kekasih Linsara, tetapi aku tak meresponya sama sekali. Hatiku bergejolak dan bertanya-tanya, akhirnya aku tanyakan langsung kepada Sara tentang kebenaran kabar bahwa ia sudah memiliki kekasih. Seperti petir yang menyambarku di siang yang bolong, dengan entengnya Sara membenarkan kabar tersebut dan meminta maaf kepadaku karna aku hanya dijadikan simpanannya. Betapa hancurnya hatiku waktu itu, rasa sayang yang aku berikan kepadanya ternyata tidak berarti apa-apa untuknya. Selama ini aku hanya dijadikan mainan dan aku menyadari bahwa aku telah menjadi korban gadis yang tidak dapat menerima keadaan. Aku relakan semua, karena waktu masih panjang dan aku percaya kepada Tuhan yang memberiku orang yang salah sebelum aku menemukan orang yang tepat. Sekarang aku memiliki kekasih yang lebih baik dari Linsara, meskipun wajahnya tak secantik Linsara tetapi hatinya sangat menawan. Sementara Linsara si parasit cantik itu terus berpetualang untuk mencari korban-korban berikutnya. Terakhir aku mendengar Linsara memaksa menikah dengan seorang pegawai pajak, tetapi orang tua dari kekasihnya itu tidak menyetujuinya.

Linsara, inilah kisah hidupku dengan kenangan pahit bersamanya. Semoga kelak ia dapat merubah sifatnya yang senang sekali menjadi parasit laki-laki. Cukup pertama merasakan sakitnya dipermainkan dan aku harap sudah tidak ada lagi Linsara-Linsara yang lain yang mengganggu hidupku.



BY : DIMAS YUNIANTO HERBOWO