SI PARASIT CANTIK
Di tengah heningnya suatau
malam, aku duduk terdiam dan memandangi sebuah genteng rumah tingkat yang tepat
berada dihadapanku. Kupandangi terus-menerus
sampai
mataku lelah dan mulai
merasa mengantuk. Saat aku mulai merasa ingin tidur, di antara
hembusan lembut angin malam, tiba-tiba terdengar bunyi suara HP-ku yang menandakan ada pesan masuk.
Aku buka pesan
itu dengan mata yang lelah, dan saat aku baca isi pesan singkat itu langsung
mataku yang tadinya mengantuk menjadi segar kembali. Betapa bahagianya aku dikala malam
itu dengan kesendirianku yang hanya ditemani oleh secangkir kopi. Berbulan-bulan aku menantikan sms itu dan
akhirnya dia mengatakannya juga. Langsung saja aku masuk ke kamar kosku, sambil
tersenyum bahagia dan dengan perasaaan yang begitu gembira. Terbaringlah aku di
kasur lapukku
tempat biasa aku tidur, kutarik bentangkan kaki dan tangan kebawah dan keatas
sambil tersenyum lebar, ingin
rasanya aku segera tidur agar cepat berganti hari. Mata kupaksa untuk terpejam agar bisa cepat
segera terlelap dalam tidurku, tetapi
semakin aku memaksa memejamkan
mata,
semakin pula aku tidak bisa tidur, entah mengapa sampai bisa seperti ini. Aku hanya bisa tersenyum bahagia dan
berulang-ulang kali mebuka dan membaca pesan yang baru saja aku terima
seakan tak percaya bahwa
Linsara akan mengirim sms tersebut untukku
yang isinya:
Dari: Linsara
Mas, besok aku pulang dan turun di stasiun Tugu. Aku tolong dijemput ya mas? Aku naik kereta api Kahuripan.
Hari
telah berganti, mataku masih sembab akibat kurang tidur semalaman. Aku berangkat kuliah sambil terus
membayangkan dalam hati tentang
Linsara.
Ya, Linsara, temanku SMP yang merupakan gadis paling manis di sekolaku dulu,
aku tak pernah menyangka dia mau mengenalku yang hanya kutu-kutu sekolah saat itu. Pikiranku terlalu
lama untuk melamunkan Linsara, gadis manis pujaanku. Sampai
tak sadar temanku sudah
berada di sampingku dan menendangku yang sedang melamun bahagia sambil terus
senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
“Kapan
kamu datang?” tanyaku kepada
Arif sahabatku.
“Lima
tahun yang lalu! Dipanggil
dari tadi malah melamun,
kesurupan
setan kampus nanti kamu”,
jawab Arif
kepadaku.
Aku
pun tersenyum sambil terus membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam waktu
aku jemput Linsara.
Teman semakin banyak yang datang dan menghampiriku, sambil menunggu dosen
keluar dari kantor, tak lama kemudian dosen
kami pun keluar dari kantor dan menuju ruang perkuliahan. Pada waktu kuliah berlangsung, hatiku
semakin tak karuan dan pikiran tentang Linsara terus menari-nari dalam alam
bawah sadarku aku berteriak,
“Oh, Sara.. Mas sayang kamu!”
Sontak semua yang berada di
ruangan terdiam dan sesaat kemudian kelas menjadi riuh dengan suara tawa dosen
dan teman-temanku. Aku sangat malu dan berlari menuju kamar mandi untuk
membasuh mukaku.
Pagi
berganti siang, siang beganti sore, sore berganti malam, dan malam inilah yang
aku tunggu karena aku akan bertemu dengan Linsara yang berniat menemuiku dari Madiun tempatnya bekerja.
Aku bersiap-siap merapikan diri dan segera bergegas menuju stasiun untuk
menjemput Linsara,
tibalah aku di stasiun
kutunggu Linsara
di pintu keluar sambil aku terus
menghubungi dia. Senang
hati dan rasa yang bercampur
aduk
aku terus menunggu kedatangannya. Terdengar suara bel dilanjutkan pemberitahuan
petugas stasiun bahwa kereta akan datang. Hatiku kembali bersemangat dan
bahagia akhirnya kereta yang aku tunggu datang juga. Lima menit aku menunggu di pintu keluar dan berharap aku secepatnya dapat menemukannya.
Akupun segera bergegas mencari dan mendatanginya. Linsara memanggilku dari ruang informasi sambil
melambaikan tangan, dan aku berlari menujunya. Kupandangi terus wajahnya yang
semakin cantik, diajukan tangannya tanda ingin berjabat tangan denganku sambil
dicium tanganku. Alangkah bahagianya aku, melihat dan merasakan sikapnya.
Kuajak dia untuk keluar dari stasiun dan mencari makan di daerah Malioboro sambil berjalan-jalan menikmati
indahnya kota pelajar ini. Aku terus memandangi wajah dan senyumnya yang sangat
manis itu, hingga dapat meluluhkan hatiku yang memang benar-benar tak percaya
Sara mau untuk menemuiku saat ini.
“Mas
kamu sekarang kok tinggi sekali.”
Begitulah
dia bertanya padaku saat aku
berjalan di sampingnya. Aku jawab dengan senyuman yang tak kalah lebarnya. Aku
bahagia sekali berada di dekatnya.
Kuberhentikan
kendaraanku di rumah makan daerah Kalibayem
Yogyakarta, kuajak dia masuk dan
kupersilahkan duduk dan
memesan makanan kesukaannya. Kami berduapun makan sambil mengobrol diselingi candaan yang membuat semua orang di
sekitarku merasa iri. Setengah jam telah berlalu, tak sadar
makanan dan
minuman yang kami pesan habis seketika. Kami pun segera bergegas menuju Purworejo, sepanjang perjalanan dari Yogyakarta sampai Purworejo, perasaan dan hatiku
sangat senang dan bahagia.
Kuantarkan dia sampai
rumahnya yang tak jauh dari rumahku. Di rumahnya aku disambut dengan
senyuman oleh ibunya, sambil mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumah. Tetapi waktu itu sudah hamper larut malam, sehingga aku putuskan untuk segera
bergegas pulang ke rumah
saja.
Keesokan
harinya, Linsara
mengajakku untuk mengantarkan
membeli tiket kereta tujuan Madiun.
Rasa yang tadinya sangat bahagia itu, mendadak hilang kerena dia akan kembali
lagi ke Madiun.
Aku
coba ikhlaskan, hari yang ditentukan keberangkatan kereta api telah datang. Kuantarkan dia menuju stasiun
kemudian kutemani dia mendapatkan
keretanya. Sambil menunggu kereta datang, aku beranikan diri
untuk mengutarakan isi hatiku kepadanya bahwa aku mencintainya.
“Linsara,
aku suka sama kamu, mungkin kamu akan kaget mendengar ini, tapi aku benar suka sama kamu, kamu mau tidak jadi kekasihku?”
Linsara
pun tak kunjung
menjawab, hanya tersenyum dan mengangguk tanda ia mau dan menerimaku. Sungguh
saat waktu itu aku tidak dapat
berbuat apa-apa, rasa bahagia melambung sampai ke angkasa. Tak
lama kemudian, keretapun datang untuk membawa Linsara kembali menuju Madiun. Kuikhlaskan dia pergi,
meskipun sebenarnya aku tidak rela, karena aku ingin sekali bersama dengannya dalam waktu yang lama. Setelah
kejadian di stasiun itu, aku semakin rajin menghubungi Linsara untuk menanyakan kabarnya dan sekedar
menyalurkan kerinduanku kepadanya. Tetapi jarang sekali aku mendapat
respon atau balasan darinya.
Pikiranku
mulai curiga dengannya, tapi
aku tidak ingin berpikir negatif kepadanya.
Selang
beberapa minggu aku mulai libur semester, aku berniat untuk menemui Linsara di Madiun. Berangkatlah aku setelah
mendapat persetujuan dari Linsara.
Di Madiun,
kumanjakan Linsara
layaknya seorang permaisuri raja.
Dia meminta apa saja aku menurtinya, dari kalung, pakaian, tas, sepatu, sampai
berjam-jam menunggunya di salon kecantikan.
Aku bahagia sekali karena dapat membuatnya merasa riang.
Dua hari
satu
malam aku berada di Madiun
untuk melepas rindu dan membahagiaakan Linsara. Aku berniat untuk pulang dan berpamitan
dengan Linsara
untuk kembali ke
Purworejo.
Berminggu-minggu setelah aku di
Purworejo,
kejadian itu terulang
kembali. Tidak pernah sekalipun Linsara menanyakan kabarku, bahkan
menyapaku lewat ponsel pun tidak pernah. Aku mulai berpikir negatif kepadanya, aku coba untuk memulai
menghubunginya, tapi sama sekali tidak ada respon. Beberapa hari kemudian, aku
menelepon dia dan memberitahukan bahwa aku akan ke Madiun lagi. Lusanya aku berangkat ke Madiun.
Di perjalanan menuju ke Madiun perasaanku benar-benar tidak
karuan dan sangat
gelisah merasakan perubahan sikap Linsara yang menghilang tanpa kabar.
Sesampainya
di Madiun
aku lepaskan rasa lelahku sejenak, sambil menunggu Linsara pulang dari bekerja. Setelah dijemput Linsara, kami berdua makan di sebuah
restoran dan disela-sela makan malan itu, aku bertanya mengapa dia tidak pernah memberikan kabar. Linsara
tersenyum dan mengatakan bahwa ia sangat sibuk menjadi sales promotion girl. Aku memaklumi alasannya dan kembali mengobrol
dengannya. Setelah selesai makan, Linsara mengajakku untuk berjalan-jalan ke
mall yang tak jauh dari restoran tersebut. Aku pun menyanggupinya dan seperti
biasa, aku manjakan dia untuk meminta apapun yang ia suka di sana.
Keesokan
harinya aku kembali berpamitan kepada Sara untuk pulang ke Purworejo. Setelah aku sampai Purworejo, lagi-lagi hal itu teulang, tidak pernah sekalipun Linsara menghubungi aku, aku mulai
berpikir bahwa Linsara
hanya mempermainkanku. Aku
mencoba melepaskannya secara pelan-pelan dan tidak akan mengingatnya lagi. Tak
lama setelah kejadian itu,
aku mendapat telepon dari seseorang yang mengatakan bahwa dia adalah kekasih Linsara, tetapi aku
tak meresponya sama sekali. Hatiku
bergejolak dan bertanya-tanya, akhirnya aku tanyakan langsung kepada Sara
tentang kebenaran kabar bahwa ia sudah memiliki kekasih. Seperti petir yang
menyambarku di siang yang bolong, dengan entengnya Sara membenarkan kabar
tersebut dan meminta maaf kepadaku karna aku hanya dijadikan simpanannya.
Betapa hancurnya hatiku waktu itu, rasa sayang yang aku berikan kepadanya ternyata tidak berarti apa-apa untuknya. Selama ini aku hanya dijadikan mainan dan aku
menyadari bahwa aku telah menjadi korban gadis yang tidak dapat menerima
keadaan. Aku relakan semua, karena waktu masih panjang
dan aku percaya kepada Tuhan yang memberiku orang yang salah sebelum aku
menemukan orang yang tepat. Sekarang
aku memiliki kekasih yang lebih baik dari Linsara, meskipun wajahnya tak
secantik Linsara tetapi hatinya sangat menawan. Sementara Linsara si parasit
cantik itu terus berpetualang untuk mencari korban-korban berikutnya. Terakhir
aku mendengar Linsara memaksa menikah dengan seorang pegawai pajak, tetapi
orang tua dari kekasihnya itu tidak menyetujuinya.
Linsara, inilah kisah
hidupku dengan kenangan pahit bersamanya. Semoga kelak ia dapat merubah
sifatnya yang senang sekali menjadi parasit laki-laki. Cukup pertama merasakan
sakitnya dipermainkan dan aku harap sudah tidak ada lagi Linsara-Linsara yang
lain yang mengganggu hidupku.
BY : DIMAS YUNIANTO HERBOWO

Tidak ada komentar:
Posting Komentar